[00] Akhir dari
permulaan
Menurutmu apa yang membuat dunia bisa terus berjalan seperti ini?
Apakah karena adanya masyarakat yang tertib? Nilai? Moral? Atau Hukum? Apapun
sebabnya, pasti sebuah unsur bernama "Manusia" akan selalu terlibat
di dalamnya.
"Manusia adalah pusat dari dunia."
Itulah bagaimana orang-orang hedonisme berpikir. Mereka menganggap diri
mereka terpenting, tak tergantikan dan merupakan prioritas utama. Mereka semua
menikmati bahagia tanpa berpikir semua apa yang mereka dapat itu berasal dari
mana.
Meskipun banyak orang yang menderita, bersedih, kesusahan, dan merana
di luar sana, kebanyakan orang yang hidupnya terpenuhi akan bersifat apatis
akan kenyataan yang ada. Mereka akan berpaling dan menganggap dunia hanya
seluas lingkungan mereka yang damai, seluas kaki tempat dimana kaki mereka
pernah melangkah.
Menurutku sendiri, alasan mengapa dunia bisa tetap ada dan terus
berjalan sampai sekarang adalah karena adanya mereka, orang-orang yang berperan
dalam kesusahan dan penderitaan.
Itu hanya sebuah pandangan untuk memuaskan diri semata, sebab aku
adalah bagian dari orang-orang yang berjuang dalam kesusahan dan penderitaan
itu.
Tetapi, asal kalian tahu aku satu kali pun tidak pernah menganggap diriku
bernasib sial atau mengutuk takdir. Apa yang aku dapat sekarang, hidupku saat
ini, semua yang telah aku lewati, dan berbagai nasib yang aku alami, semua itu
adalah sebuah Anugrah dalam kehidupan. Sejelek dan Semenjijikan apa pun, itu
adalah diriku.
Hanya dengan melihat mereka yang berkecukupan, aku merasa, "Ah,
dia bisa makan enak dan senang-senang seperti itu berkat ada orang seperti
diriku ini. Kalau saja tidak ada yang di bawah, pasti tak akan ada yang di
atas."
Secara tidak sadar aku tahu kalau semua pemikiran itu hanya untuk
menghibur diri, melindungi sesuatu yang bernama hati dan perasaan yang rapuh
akan kenyataan.
Tapi ..., tapi mau bagaimana lagi. Ini hidupku, ini ketentuan dan
ketetapan yang ku dapat. Tidak ada yang bisa diubah sekarang.
Aku tahu kehidupanku sangat membosankan dan menyedihkan, oleh karena
itu aku tenggelamkan pikiran dan harapan dalam ilusi.
Aku tahu dunia ini dibuat dengan adil, tetapi tidak setara. Oleh karena
itulah sebuah perbedaan ada di mana-mana.
Aku tahu kalau dunia ini memang indah, tapi tidak selalu. Ada banyak
keburukan yang tersebar rata.
Aku hanya tahu, tetapi tak pernah mengerti .... alasan mengapa diriku
terlahir di dunia ini, alasan mengapa aku ada, alasan mengapa hidupku bisa
seperti ini, dan pada akhirnya hanya mencari setumpuk alasan saja. Tanpa
benar-benar mencari tahu.
Lebih rendah dari orang-orang yang menutup mata dari kenyataan, itulah
jenis orang yang menyalahkan orang lain atas situasi yang didapatnya, dan aku
termasuk golongan orang semacam itu. Begitu rendah, hina, dan munafik.
Andai aku bisa mengubah segalanya, aku ingin menjadi diriku sendiri.
Tapi, sayang sekali sebuah organisasi bernama "Masyarakat" tak akan
pernah memberi kesempatan itu padaku.
Bagaikan sebuah label yang telah ditempelkan, aku tidak bisa melepas
peranku di masyarakat dengan mudah. Jika mencobanya, seperti halnya barang
tanpa label di swalayan aku tidak akan diterima oleh pembeli yang bernama
masyarakat.
Ini hanya keluhan, tidak ada yang penting, tak ada yang harus
dipermasalahkan, yang ada hanya sebuah ungkapan kata-kata yang akan hilang
terbawa angin dan tertelan waktu.
"Sungguh, semuanya adalah omong kosong belaka. Sebuah bualan tak
penting."
««»»
Sore hari menjelang magrib, aku berdiri di atap gedung Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik tempatku berkuliah. Sambil meletakkan kedua tangan di
atas pembatas besi, aku melihat pemandangan pepohonan sekeliling bangunan
tersebut.
Gedung ini memiliki tiga lantai, dengan ruangan yang jumlah mungkin
mencapai lima puluh ruangan. Aku tak pernah menghitungnya, jadi itu hanya
perkiraan.
"Huh, sungguh menyedihkan."
Perkataan itu aku arahkan pada diriku sendiri. Ya, mau bagaimana lagi.
Untuk masa penuh potensi di umur 18 tahun, aku bagaikan anak ayam yang masuk ke
dalam kandang bebek.
"Aku tidak tahu kalau salah jurusan akan sangat menyedihkan
seperti ini."
Sebenarnya tidak ada alasan untukku mengeluh, dari kecil sampai
sekarang memang tak ada satupun pilihan penting yang aku ambil sendiri.
Semuanya aku serahkan pada keluarga, pada lingkungan, dan pada suasana yang
ada.
Sekolah dasar hanya karena diperintah untuk sekolah, masuk sekolah
menengah pertama yang cukup ternama di daerahku juga hanya karena tuntutan
orang tua, saat jenjang berikutnya juga tak jauh berbeda, begitu pula masa
kuliah ini.
Tapi, dari semua itu ada satu yang berbeda sekarang. Aku tidak harus
berada di rumah itu. Jujur, aku juga masih ragu untuk memanggil tempat itu
rumah. Tidak, bukan berarti tempatnya tidak nyaman atau tidak layak, malah bisa
disebut tempat itu kelas menengah ke atas.
Hanya saja, sesuatu yang penting dari sebuah "Rumah" tidak
ada pada tempat itu, sebuah kekeluargaan yang rukun tidak ada di tempat itu. Di
sana ... hanya ada orang dan orang dan orang yang mungkin bisa disebut
keluarga.
"Yah, kurasa ini lebih baik daripada harus satu tempat dengan
mereka."
Sambil duduk dan bersandar pada pembatas aku mendongak ke atas,
mengingat kembali orang-orang yang secara DNA adalah keluargaku.
Ayah yang selalu pulang larut malam karena pekerjaan, Ibu yang seorang
wanita karier, dan adik yang lebih berbakat dariku. Jujur aku tidak membenci
mereka, tapi aku juga tidak bisa bilang kalau aku suka mereka.
Mau bagaimana lagi, aku bahkan tidak pernah punya kenangan bahagia
dengan keluargaku. Sejak umur lima tahun aku sudah dititipkan ke kerabat karena
mereka sibuk bekerja. Aku tidak pernah dipuji atas hasil yang aku dapat, yang
selalu didapat hanya sebuah perkataan yang selalu membandingkanku dengan
adikku.
Memang bukan salah siapa-siapa aku tidak bisa merasa suka pada mereka,
aku tahu kalau mereka melakukan semua itu demi anak mereka. Tetapi, hanya saja
aku sebagai anak tidak merasakan kebaikan mereka.
Muak dengan suasana yang menyesakkan di tempat yang disebut rumah itu,
setelah lulus SMA aku memilih Universitas yang jauh. Sayangnya, aku tidak
diterima dan harus masuk ke Universitas yang hanya berjarak lima stasiun dari
Daerah tempatku tinggal.
Meski begitu, paling tidak aku terbebas dari suasana itu. Memasuki
sebuah masa baru dimana aku merasa salah jurusan.
Grrrrr...!
Perutku berbunyi, sudah dari pagi aku belum memasukan apa-apa ke dalam
mulut kecuali air. Pada saat tanggal tua seperti ini, bagi anak kos memang
wajar hal seperti ini terjadi. Ya, paling tidak kecuali orang-orang yang bisa
memanajemen keuangan dengan baik.
"Akh, sialnya ..., kalo tahu begini mending aku puasa Senin-Kamis
lagi. Apa sekalian ditambah Puasa Daud ya, kalo dihitung berarti seminggu bisa
hemat Senin, Rabu, Kamis, Sabtu. Ah, tetep harus buka ya .... Oh, iya ... ini
hari Selasa."
Setelah bergumam tidak jelas, aku berdiri dengan lemas kemudian
berjalan masuk dan menuruni tangga.
Sebenarnya bukan berarti aku kekurangan uang, jatah bulanan dikirim
tanpa telat dan tanpa kurang. Alasan aku sangat menghemat sampai tak makan
adalah karena aku sedang menabung untuk membeli tanah sendiri setelah lulus.
Sekarang aku bahkan kerja magang di hari Sabtu dan Minggu sebagai
Notulen di perusahaan yang memiliki koneksi dengan orang tua. Dengan
menggunakan nama orang tua, aku diterima dengan mudah meski hanya dapat upah
800 ribu sebulan.
Lulus langsung menabung untuk membangun rumah, itulah satu-satunya
alasanku ada saat ini. Mungkin itu terdengar konyol, tapi apa boleh buat karena
pada dasarnya aku adalah orang yang tak berambisi.
Setelah sampai di lantai paling bawah, aku segera keluar dan berjalan
menuju parkiran motor. Aneh, itulah yang aku rasa setelah sampai di tempat itu.
Untuk orang yang selalu membaca suasana sepertiku, tidak mungkin aku
mendapat musibah situasi seperti ini. Aku dipalak, oleh tiga orang berbadan
besar yang tidak aku kenal.
Dengan nada dan wajah yang menunjukkan tanda pasrah, aku berkata,
"Aku gak punya uang, sungguh. Kalo gak percaya, cari aja." Aku
mengangkat kedua tangan, mereka pun merogoh semua saku yang ada. Pada saat
mereka tidak menemukan uang yang mereka cari, sebuah bogem mentah mendarat di
perutku dan ditutup dengan tendangan di wajah saat aku tersungkur.
"Cih, dasar barbar. IQ jongkok," itulah yang aku pikirkan. Tentu saja aku tidak bodoh untuk mengatakan
itu langsung kepada mereka.
Setelah mereka pergi meninggalkanku, aku bangun dengan tubuh yang lemas
ditambah nyilu dan sakit. Tanpa melontarkan kata-kata sedikitpun, aku lekas
berjalan menuju satu-satunya motor yang tersisa di parkiran. Itu motorku, motor
bebek yang kalau diloak mungkin harganya kurang dari tujuh juta.
Kesialanku hari ini tidak berakhir, saat aku ingin keluar ternyata
palang pintu parkiran telah tertutup dan penjaganya sudah pulang. Kalau
dipikir-pikir, mungkin itu wajar mengingat sudah sesore ini.
Dengan berat hati, aku meninggalkan motor di parkiran dan berjalan
pulang. Kalau masalah kemungkinan dicuri atau tidak, kemungkinannya tidaklah
nol.
Tetapi, bagiku sekarang mengangkat motor melewati pagar setinggi hampir
dua meter adalah hal mustahil. Meminta bantuan adalah solusi mustahil juga
karena sudah sepi, yang ada mungkin aku dihajar oleh preman-preman kampus yang
sering keluyuran sore-sore seperti ini.
"Uhhh, lemes ...."
Aku berjalan pulang ke kos yang berjarak kurang lebih empat kilometer.
Untuk jarak yang tidak terlalu jauh, tetapi medan naik turun bukit memang
membuat kaki letih. Ditambah penerangan jalan yang minim, jujur ini sangat
menyebalkan.
Saat berhenti dan duduk pada bangku umum di sekitar pertigaan untuk
istirahat sejenak, aku kembali merenung dan khawatir dengan motor yang aku
tinggal. Memang kalau mencuri satu buah motor akan cepat terlacak mengingat
daerah ini adalah kawasan universitas, tetapi kalau hanya mencuri
komponen-komponen penting saja itu akan mustahil dilacak.
"Gawat ... kalau motorku dirontok gimana ....?"
Sesaat setelah beranjak dari bangku dengan rasa khawatir, sekilas
cahaya putih lewat di hadapanku. Tubuh langsung gemetar, hal-hal berbau gaib
langsung mengisi pikiranku. Sekilas terdengar suara dari belakangku, dan saat
aku berbalik di atas bangku duduk seorang gadis yang menundukkan kepalanya.
"Putih," itulah kesan yang aku
dapat darinya. Dari rambut sampai gaun yang dikenakan, semuanya putih,bahkan
kulitnya sangat terlihat pucat.
"Ku-Kuntilanaaak!!!"
"Oi, Aku bukan Mbak Kunti ...."
Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapku. Rambut putih keperakan
yang menutupi wajahnya disibak, wajah cantik jelita dengan tatapan mata semerah
buah delima membuatku terpaku sesaat.
"Malaikat ...."
"Sekarang gombalan? Dasar, engkau memang selalu menarik."
Perkataannya ada yang ganjal, padahal aku pikir ini pertama kalinya
kita bertemu tapi mengapa dia menggunakan kata Selalu? Meskipun banyak
berpikir, aku tidak menanyakan rasa penasaran ini padanya.
"Belum pulang?" tanyaku untuk mengganti suasana.
"Ini mau pulang, makanya aku duduk di halte."
"Eh, halte?'
Aku mendongak ke atas, dan seperti apa yang dikatakannya di sana ada
sebuah papan besi sebagai atap dengan tulisan "Halte 101". Mungkin
karena kurangnya penerangan, aku tidak sadar kalau tempat yang aku duduki tadi
halte.
"Ya, biasanya aku kalau naik motor ngebut sih, wajar gak lihat
kalau ada halte di pertigaan .... engm, masa ada halte sih di sini?" Keraguan masih ada dalam benakku.
"Kamu sendiri ... mau apa di sini? Sudah senja, loh. Ya, malah
sudah malam sih sekarang. Asal kau tahu, di sini angker. Kalo ada yang
tidak-tidak gimana?"
"Kayak Kunti⸻"
"Sudah ku bilang, Aku bukan Mbak Kunti ," ucapnya dengan
jutek.
"Sorry, sorry, bercanda."
Aku duduk di sebelah gadis itu. Mungkin ini terdengar konyol, tapi
kalau meninggalkan gadis yang tubuhnya terlihat rapuh di tempat seperti ini
rasanya aku gagal sebagai seorang pria.
"Yah, paling tidak sampai busnya datang .... Lagi pula, turun
bukit di depan juga aku sampai di kos."
"Gak pulang?" tanyanya dengan nada ringan seraya menjaga
jarak duduk denganku.
"Nanti .... Aku juga nunggu bus."
"Oh, begitu ya ...."
Pembicaraan kami berakhir, kesunyian benar-benar mengisi suasana
diantara kita. Dia tidak berkata apa-apa, aku juga tidak bisa berkata apa-apa.
Sampai waktu dua jam berlalu dan hari sudah benar-benar malam, tetapi
bus masih belum datang dan gadis itu tetap duduk di samping kananku dengan
diam.
"Ngomong-ngomong, kamu naik bus yang rute apa?" tanyaku
dengan canggung. Tetapi, dia tidak menjawab. Merasa heran, aku menolehnya dan
memandangi wajahnya yang tertutup poni.
Saat aku menyentuh pundaknya dan sedikit mengguncang tubuhnya, rasanya
dia sangat ringan. Kepalanya menoleh ke arahku, dengan tatapan berlinang air
mata dia berkata, "Maaf, aku tidak bisa menahannya ... Ini pertama kali aku
merasakannya .... Maafkan aku."
Perkataannya benar-benar membuatku bingung. Sebelum sempat bertanya,
dia berkata kembali, "Ini juga salahmu, padahal aku hanya ingin melihat
saja dari dekat ..., tapi kau malah ... malah ...."
"Oi, apaan? Kenapa nangis?"
Tanpa menjawab, tiba-tiba wajah gadis itu meleleh seperti lilin yang
terkena panas. Kulit beserta seluruh dagingnya meleleh dan hanya menyisakan
kerangka tulang beserta gaun putih.
"A .... Apa ini ... apa ...?"
Perlahan aku melepaskan tangannya yang hanya tinggal kerangka tulang
saja. Keringat dingin seketika bercucuran, napasku mulai kacau, dan pikiran
dipenuhi rasa takut.
Aku segera bangun dari bangku, melangkah mundur dan turun dari trotoar
ke jalan. Saat pikiranku masih kacau, sebuah bus yang melaju dengan kecepatan
tinggi membunyikan klakson.
Aku menoleh, tetapi jarak yang ada membuatku tak sempat menghindar.
Dengan kecepatan tinggi, bus itu menabrakku dari samping dan membuatku
terpelanting sampai beberapa meter. Aku menggelundung di jalan menurun, seluruh
tubuhku dipenuhi luka lecet dan tulang rusuk bagian kanan dapat kurasakan
patah. Bahkan rasa sakit seperti sesuatu yang menusuk paru-paru dapat aku
rasakan dengan sangat jelas, itu patahan tulang rusuk yang menusuk organ dalam.
Dengan sebagian pandangan tertutup darah, aku melihat gadis tadi
berdiri di dekat bus yang menabrakku. Dengan tatapan sedih, bibirnya terlihat
mengatakan sesuatu.
Aku tidak tahu apa yang dia katakan, dia terlalu jauh dan kepalaku
sangat sakit. Pandanganku buram, napasku sesak, dan rasanya semua tubuhku
dingin.
"Akh ... akhir yang sesuai alur .... apa aku akan mati seperti
ini? Padahal aku belum .... belum apa ya? Aku lupa .... ah, biar amat ... lagi
pula mau mati ...."
.
.
.
.
Aku membuka mata, yang pertama kali ku lihat adalah langit-langit yang
tidak aku kenal. Saat berusaha bangun, seluruh tubuhku rasanya sakit semua.
Ternyata aku sedang dirawat di rumah sakit, saat melihat infus dan alat-alat
medis lain aku langsung tahu itu.
"Syukurlah gak jadi mati ...."
Saat aku merasa lega untuk sesaat, tiba-tiba terdengar suara engsel
pintu yang terbuka. Aku kira itu keluargaku yang datang menjenguk, tapi sayang
sekali bukan. Itu dia, gadis yang sebelumnya meleleh seperti lilin daging dan
kulitnya.
Rasa takut langsung aku rasakan. Yang membuatku takut bukan apa yang
aku lihat sebelumnya, kalau dia datang hanya untuk berkunjung aku tidak akan
merasa takut. Tapi, sayangnya dia bukan gadis yang ramah seperti yang aku kira.
Dengan menyeret kampak besar di lantai, dia berjalan menuju ke ranjang
tempatku terbaring. Aku segera melepas alat medis dan infus dari tubuh, lalu
berusaha menjauh dari gadis gila itu.
"Maaf, maafkan aku ... datanglah padaku. Aku janji akan memberikan
apapun untukmu. Aku mohon, datanglah ke tempat di mana aku bisa menggapaimu,
.... hanya itu saja .... Aku mohon, ⸻"
Hembusan angin menerbangkan satu kata terakhirnya. Tetapi, dengan jelas
aku dengar apa yang dia katakan. Dia memanggil namaku dengan panik.
Aku terkejut dan terjatuh dari ranjang, dengan tubuh penuh perban dan
luka aku merangkak menjauh. Sayangnya, gadis itu sama sekali tidak berniat
membiarkan aku pergi.
Tanpa bisa
berbalik, dia mengayunkan kampak dan membacok punggungku dengan tanpa ragu.
Rasa sakitnya membuat kesadaranku seakan melayang. Dia menarik kampak yang tertancap
pada punggung dan mengoyak daging, kemudian kembali mendaratkan kampak untuk
mengakhiri hidupku yang menyedihkan dan tidak berarti ini.
««»»
Di atas penuh genangan air aku tersadar dan membuka mata, membaringkan
tubuh dengan lemas seraya mengingat-ingat sesuatu. Saat itu, aku langsung sadar
kalau diriku sudah mati. Setahuku, tidak ada manusia yang masih hidup setelah
kepalanya dibacok dengan kampak sampai isinya berceceran.
"Jelas-jelas tadi dia memanggil namaku .... Dari mana dia tahu
...?"
Aku bangun dan berdiri dengan tegak. Rasa letih dan sakit yang
sebelumnya aku rasakan sekarang tidak terasa sama sekali, bahkan saat aku
menggerakkan kedua tangan dan pinggang rasanya seperti kapas dan sangat ringan.
Melihat ke depan, di sana hanya ada hamparan genangan air jernih yang
dangkal dengan dasar permukaan lantai putih polos.
"Dunia Persimpangan Kehidupan dan Kematian."
Tanpa aku hendaki, kalimat itu keluar dengan sendirinya. Anehnya lagi,
rasanya aku sangat tidak asing dengan tempat ini. Tak asing, teramat nostalgia
dan banyak kenangan.
"Apa kau masih bingung?" Suara yang terdengar sangat serak
datang dari belakang. Aku menoleh, tetapi yang ku lihat adalah sebuah sosok
yang hanya ada hawa keberadaannya saja tetapi tak memiliki wujud fisik.
Seperti sebuah gambar dalam foto yang dihapus paksa, sosoknya tak bisa
ditangkap oleh kedua mataku, hanya sebuah unsur dia "Ada" di sana
sajalah yang memberitahuku akan sosok tersebut.
"Apa ... aku sudah mati?"
"Hem, begitu ya ... jadi sampai batas itu?"
"Hah? Batas?"
"Tak apa .... Seperti apa yang kau pikir, wahai keturunan Adam.
Kau telah mati, dan jiwamu dibawa ke alam Perbatasan ini."
"Jadi ... aku akan masuk ke mana? Neraka? Surga?"
"Hem, memang jiwa yang jauh dari kata Normal ya .... Kau tidak
takut masuk neraka?"
"Tentu saja takut, tapi kalau sudah mati mau bagaimana lagi.
Memangnya kalau di tempat ini aku diperbolehkan memilih?"
Itu benar, aku selalu seperti itu. Membiarkan orang lain memilihkannya
untukku, dan kalau aku tidak puas dengan hasilnya di akhir pasti hanya ada
keluhan yang keluar. Walaupun telah mati, aku memang orang seperti ini.
"Kalau begitu sayang sekali ya, engkau tak akan masuk ke duanya.
Ya, dari awal jiwa dan rohmu sudah tidak bisa masuk ke kedua tempat itu."
"Eh?" Aku memalingkan wajah, kemudian berpikir, "Tidak
bisa? Bukan Neraka atau Surga? Memangnya ada alam lain setelah kematian selain
kedua itu? Apa alam kubur? Tapi, kalau ini alam perbatasan kurasa aku sudah
melewati alam itu."
Keheranan sekali lagi merasuk ke dalam perasaanku, kenapa aku tahu
semua itu? Kenapa aku bisa paham dan tidak panik dengan situasi ini? Semua
pertanyaan itu membuatku berhenti berpikir sesaat.
"Aku akan memberi kehidupan kedua untukmu."
Pernyataan itu membuatku membatu. Dengan panik aku berjalan ke arah
sosok tanpa wujud fisik itu dan berusaha menyentuhnya, tetapi seakan sebuah
fatamorgana kedua tanganku tidak bisa memegangnya.
"Ini sebuah ketetapan. Kau tidak punya hak untuk menolak, kali ini
engkau akan berada di tempat yang bisa diriku gapai .... Dengan Kekuasaanku
sebagai salah satu Dewa Sejati, Sang Penguasa Hidup dan Mati, aku akan
mengirimmu ke tempatku ...."
Saat mendengar perkataan itu, aku tahu kalau identitas sosok samar di
depanku adalah gadis itu, perkataannya mirip dengan apa yang gadis yang membunuhku
katakan. Dari susunan perkataan yang sangat tidak asing itu, aku juga sadar
kalau dia tidak sedang bergurau tentang siapa dirinya itu.
Dia Dewa Sejati, secara insting aku tidak bisa menolak kenyataan yang
dikatakan olehnya.
"Ka-Kau ...."
"Jangan khawatir ... Akan aku pastikan engkau bahagia."
Walaupun aku tidak bisa melihatnya, tetapi dengan sangat jelas dapat
aku rasakan dia mendekati wajahku dan menyentuh kedua pipiku.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu .... tak akan pernah aku
lepaskan. Kali ini, aku pasti akan mendapatkanmu .... Tidak akan diriku biarkan
engkau kembali jatuh ke ......."
Kesadaranku pudar, kaki beserta tubuhku terangkat ke atas dan melayang.
Sebuah perasaan lega seketika mengisi seluruh jiwaku, kedamaian yang tidak
pernah aku rasakan datang meresap. Sebelum menyadarinya, seluruh kesadaranku
ditelan oleh cahaya putih terang keemasan.
««»»
{Author POV}
Awal musim semi di wilayah kekuasaan keluarga Luke, Kerajaan Felixia.
Di hari yang cerah dan sejuk, beberapa Roh Kelas Bawah berbentuk Eter yang
menguap, terlihat samar-samar seperti cahaya warna-warni saat
terkena cahaya. Berama kupu-kupu mereka melayang-layang di atas bunga yang
bermekaran di Kebun Herbal dan Taman kediaman Luke.
Tepat di antara Taman dan Kebun Herbal, terdapat dua bangunan besar
berupa Mansion Megah dan sebuah Perpustakaan. Mansion yang
ada adalah kediaman keluarga Luke, memiliki dua lantai serta pilar-pilar di
sepanjang teras di bagian samping.
Sedangkan Perpustakaan di sebelahnya juga tidak kalah megah, walaupun
tidak seluas Mansion tetapi bangunan itu memiliki beberapa
lantai dan menjulang tinggi seperti menara.
Di dalam Mansion dengan gaya arsitektur abad
pertengahan tersebut, terlihat beberapa pelayan yang lalu-lalang keluar masuk
membawa kain dan baskom berisi air panas.
Alasan mereka terlihat sibuk bukan karena tugas harian seorang pelayan,
tetapi karena ini adalah hari dimana Nyonya mereka akan melahirkan Penerus
keluarga Luke yang telah lama ditunggu-tunggu.
Di depan pintu salah satu kamar, Dart Luke, Tuan Tanah wilayah tersebut
dengan keringat dingin menunggu istrinya yang sedang melahirkan di dalam. Pria
yang sudah berumur sekitar 40 tahunan itu meletakkan tangan kanannya ke depan
mulut, kemudian menggerak-gerakkan jari telunjuknya dengan cepat ke pipi.
Untuk pria yang terlihat kekar dan berwibawa, dia tidak bisa
menyembunyikan rasa khawatirnya. Dia sesekali memegang rambut kucirnya yang
panjang dan telah memutih karena umur, kemudian menggigit ujungnya.
Beberapa pelayan pria dan wanita di dekat Dart sedikit merasa kasihan
dengan Tuan mereka, pada saat yang sama mereka juga merasakan rasa khawatir
yang sama dengannya.
Itu wajar, pada persalinan Mavis Luke, nyonya mereka sedang tidak dalam
kondisi prima. Untuk waktu yang lama, kondisinya sangatlah lemah, bahkan dalam
persalinan ini risiko kematian sangatlah tinggi.
"Mavis .... Mavis ...."
Di saat Dart dengan cemas menunggu, pintu kamar terbuka dan dua orang
tabib keluar, sedangkan beberapa pelayan yang membawa kain dan baskom berisi
air panas masuk. Pakaian putih para tabib terdapat bercak darah, melihat itu
rasa takut mengisi Dart.
"Ba-Bagaimana Persalinannya?" tanya Dart dengan cemas.
"Tenang saja, Tuan Dart. Istri anda telah melahirkan tanpa
kendala. Dia selamat. Meski tadi darah yang keluar cukup banyak. Hanya saja
...."
Tabib yang berbicara dengan Dart sedikit memalingkan wajah. Melihat
itu, kekhawatirannya berganti pada anaknya yang baru dilahirkan istrinya.
"A-Ada apa ....?"
"Anak Anda, dia ...."
Perkataan itu membuat Dart semakin cemas. Tanpa menunggu penjelasan
Tabib, pria itu menerobos masuk ke kamar dan menemui istrinya yang sedang
dirawat oleh para Tabib lain dan beberapa pelayan.
Melihat istri dan anaknya yang terbaring di atas tempat tidur, hati
Dart langsung lega. Kedua kakinya serasa lemas dan bahkan hampir saja rubuh
saking leganya.
Mavis terlihat lemas terbaring di atas ranjang, sedangkan anaknya yang
baru lahir berada di sampingnya.
Dart segera mendekat, kemudian menggendong anaknya yang baru lahir
tersebut. Saat itu, dirinya sadar kalau ada yang aneh dari anaknya yang baru
lahir itu. Dia tidak menangis seperti bayi pada umumnya, dia hanya terdiam
dengan mata sedikit terbuka dan kedua telapak tangan terbuka lebar.
"Sayang .... boleh aku lihat anak kita? Aku belum sempat menyentuh
wajahnya ...."
Suara lemas istrinya memuat Dart berhenti memikirkan hal ganjil pada
anaknya itu. Hanya dengan dirinya lahir dan istrinya selamat saat persalinan
saja itu sudah sangat membuat Dart sangat bahagia.
Pria itu kembali membaringkan anaknya di samping ibunya. Dengan tangan
pucat, Mavis mengelus bayi itu seraya berkata, "Syukurlah ... engkau lahir
dengan sehat. Semoga kamu menjadi anak yang kuat dan diberkahi ...."
Dart mengangkat anaknya ke dekapan Mavis, kemudian memeluk mereka.
Sambil menangis tersedu, Dart mendekatkan wajahnya ke anaknya dan berkata,
"Anak kita ... nama apa yang harus kita berikan padanya ....?
".... Supaya dia mendapat banyak berkah, bagaimana kalau Odo? Odo
Luke .... Bermakna Kaya atau Dari dan Terang, sebuah kekayaan yang berasal dari
kejayaan ... diberkahi para Roh dan Kepemimpinan."
"Odo ... Odo Luke. Namanya Odo Luke .... Nama anak kita Odo Luke
...."
Dart menangis haru, Mavis juga
ikut meneteskan air mata kebahagiaan. Semua Tabib dan Pelayan di tempat itu
ikut tersentuh. Diberkahi anak setelah menjadi pasangan selama 20 tahun lebih
merupakan suatu kebahagiaan yang tak tergantikan bagi mereka.
Tambahan informasi:
Roh dibagi menjadi beberapa tingkatan antara lain:
-Roh Tingkat Rendah: hanya berbentuk cahaya ataupun eter, tidak
memiliki kepribadian atau ego dan hanya terbang melayang-layang tetapi memiliki
elemen sesuai muatan dan karakteristik Roh masing-masing. Sifatnya seperti
fenomena alam.
-Roh Tingkat Menengah: perkembangan dari tingkat Roh sebelumnya.
Memiliki bentuk fisik, elemen, serta ego dan kepribadian. Sifat seperti hewan
atau tumbuhan, dan intelegensi rendah. Sifatnya seperti fenomena alam.
-Roh Tingkat Atas: tingkat sempurna Roh. Bentuk fisiknya sempurna di
Dunia Astral, tetapi tidak bisa berada di Dunia Nyata. Kecuali dengan kontak.
-Roh Agung: Roh yang menjadi penguasa para Roh lain. Sifatnya hampir
sama dengan Roh Tingkat Atas, tetapi memiliki kekuatan berkali lipat.
-Roh Kudus: Roh yang setara dengan para Dewa.
No comments:
Post a Comment