Di atas atap Mansion, Odo
berjongkok dengan ekspresi datar mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Anak
berpakaian kemeja dengan rangkap rompi merah itu memang sering melihat pelayan
pribadinya itu bertingkah aneh, tetapi tidak seaneh melakukan hal seperti itu
sambil mengendus pakaiannya.
"A ... Apa tadi itu yang itu
sering disebut Dorongan Hasrat Manusia Jadi-jadian? Tidak, rasanya anehkan?
Kenapa harus seperti itu segala ...."
Odo menghela napas, kemudian melihat
ke arah langit sore yang terlihat mendung. Setelah berpikir banyak hal, Odo
merasa kembali ke dalam Mansion sekarang bukanlah ide yang
bagus.
"Ya, kurasa jalan-jalan ke Kota
sekarang mungkin bisa untuk cari angin. Sekalian mungkin saja ada Monster di
hutan, jadi aku bisa menyerap Inti Sihirnya untuk Kultivasi. Bergantung pada
Sirkuit Reaktor saja belakangan ini perkembangan sihirku tidak memuaskan
rasanya ...."
Odo bangun, kemudian berdiri sambil
sesaat meregangkan tubuh dengan mengulat. Perlahan menutup mata, Ia
meningkatkan tekanan sihir sampai batas tertentu. Di sekitar tubuhnya muncul
kilatan petir berwarna biru, dan saat membuka kelopak mata, kornea matanya yang
tadi berwarna biru muda berubah menjadi biru gelap.
"Halilintar adalah bagian dari
komponen dunia, cuaca yang diselimuti awan. Diriku dan tubuhku adalah bagian dari
dunia, tubuh ini aku serahkan pada petir yang menyatu dengan langit!"
Dengan cepat petir di sekitar tubuhnya
menyerap masuk ke dalam tubuh dan membuat tubuh Odo bercahaya, berselimut petir
biru terang.
"Ya, kurasa pengendalian Mana-ku
sudah lebih baik sekarang. Kalau begitu, sekarang mungkin aku harus
meningkatkan Kuantitas Mana ....Yah, itu nanti saja sih, kali ini aku hanya
ingin cari tempat merenung."
Odo melihat ke arah hutan di luar
halaman kediamannya, dan lurus di ujung cakrawala terlihat sebuah kota pesisir
yang dihimpit oleh lereng bukit besar dan lautan. Jarak dari tempat Odo berdiri
sekitar 15 kilometer, tetapi berkat penglihatan yang ditingkatkan dengan sihir
Ia bisa dengan jelas melihat kota pesisir tersebut.
"Huh, baiklah .... Bound!"
Odo membuat lingkaran sihir pelontar di udara dengan posisi diagonal, dan
meloncat ke atas lingkaran tersebut. Saat kedua kakinya menapak pada lingkaran
sihir, Ia langsung terlontar maju ke atas dengan kecepatan tinggi ke arah
hutan.
"Bound!"
Saat masih berada di udara, Odo
kembali membuat lingkaran sihir pelontar untuk memperjauh jarak loncatannya. Ia
terus menerus menggunakan cara tersebut sampai dirinya berada di langit daerah
hutan sekitar perbukitan bertebing di dekat kota pesisir. Ia tidak butuh waktu
15 menit untuk sampai di tempat yang ditujunya.
Saat melayang sekitar 200 meter di
udara dan kilatan petir di sekitarnya yang berfungsi mengurangi gesekan dengan
udara menghilang, Odo kembali meningkatkan tekanan sihirnya dan bersiap untuk
mendarat. Ia menyelimuti kedua kakinya dengan Mana menggunakan
salah satu teknik Battle Art untuk meningkatkan ketahanan
kedua kakinya, kemudian merapalkan mantra gravitasi tingkat bawah untuk
memperlambat kecepatan jatuh.
"Semua yang di langit akan
kembali ke atas tanah, tetapi setiap hal ada pengecualian. Sekarang berikanlah
pengecualian padaku!"
Odo melayang turun lebih lambat dari
kecepatan jatuh normal, tetapi kecepatan itu masih tergolong tinggi, saat
mendarat ke tanah Ia seperti sebuah batu besar yang menghantam permukaan tanah.
Pada permukaan tanah tempatnya mendarat, terdapat retakan yang cukup lebar.
Ia lekas berdiri tanpa luka
berkat Battle Art dan Sihir yang digunakan, hanya ada sedikit
debu yang menempel pada pakainya. Setelah menghela napas ringan, ia langsung menutup
mata dan menggunakan sihir lainnya.
"Daratan tempat ku berpijak
adalah Ibu dari semua makhluk hidup, dia mengetahui semua penghuninya dan
memberitahukannya padaku ...."
Seakan sebuah sensor ada pada kedua
kakinya, semua gerakan dan getaran dalam jarak sejauh 200 meter dapat dideteksi
Odo. Itu adalah sihir Tanah Tipe Peningkatan, dimana penggunanya dapat
meningkatkan sensorik getaran yang dihantarkan melalui tanah ke kedua kaki
penggunanya.
"Hem, selain rusa dan babi hutan,
tidak ada yang lain. Biasanya ada satu atau dua Goblin di tempat seperti ini,
kenapa sekarang --- apa karena musim gugur?"
Odo tidak terlalu memikirkan hal
seperti itu. Dalam pemikirannya, kalau tidak ada, cari lagi. Oleh karena itulah
ia segera bergegas ke daerah gua di tebing bukit di mana tempat itu menurut
rumor para pelayan di Mansion banyak Goblin atau monster yang
bersarang.
Saat berjalan, Odo sedikit mengingat
kembali tipe-tipe sihir yang telah dikuasai sampai saat ini. Ia mulai
menghitung jari tangannya bersamaan dengan menyebutkan tipe sihir yang telah
dikuasai.
Sebelum itu, Ia terlebih dulu
menggunakan Sihir Peningkatan Pasif, Auto Senses. Sebuah Sihir
khusus original miliknya yang dikombinasikan dengan Battle Art. Sebuah
Sihir yang membuat penggunanya secara pasif terus menggunakan indra dengan
keadaan Adrenaline tetapi secara mental penggunanya akan tetap
stabil.
"Sihir Penguatan untuk
meningkatkan kekuatan secara fisik dan menguatkan suatu objek, Sihir
Peningkatan untuk meningkatkan indra, Sihir Penyerang untuk memberikan dampak
kerusakan, Sihir Penyembuh untuk menyembuhkan luka dan memulihkan stamina,
Sihir Pengendalian untuk mengendalikan objek, Sihir Rune untuk
menanamkan mantra pada objek, Sihir Elemen sudah lima jenis elemen, Sihir
Alkemis untuk Trasnmutasi ... ah, Sihir ini masih belum sepenuhnya aku kuasi
.... Ya, kurang lebih baru sebanyak itu. Eng, Sihir Rahasia dari masa Perang
Kono itu juga aku kurang lebih sudah menggunakannya ...."
[Catatan: Transmutasi adalah perubahan
atau konversi satu objek menjadi objek lain (Dalam unsur kimia, merubah bentuk
objek atau membuat sebuah perubahan secara paksa atau alami menggunakan reaksi
kimia)]
Saat dirinya mengingat-ingat kembali
berbagai sihir yang telah dikuasai, tanpa sadar Odo sampai di depan mulut gua
yang ada di tebing bukit. Dari luar, gua itu terlihat gelap dan lembab.
Odo memusatkan Mana pada
kedua matanya dan meningkatkan penglihatan. Saat mengamati bagian dalam gua
dari luar, Odo melihat bayangan pendek yang berlari keluar dari dalam gua. Dari
hal tersebut, dirinya kurang lebih tahu kalau yang akan keluar hendak keluar
itu adalah makhluk yang bisa menghuni gua lembab dan menjijikkan.
"Goblin ....?" Odo membuka telapak
tangannya ke depan dan bersiap menembakkan sihir petir. Tetapi, saat diamati
kembali ternyata dia salah. Yang berlari keluar itu bukanlah Monster kerdil
berkulit hijau dan jelek, melainkan seorang gadis berambut putih yang umurnya
terlihat tidak jauh berbeda dengannya.
"Eh ...?"
Wajah Odo terlihat bingung melihat
seorang gadis kecil keluar dari gua yang biasanya dihuni para monster.
Mengamati gadis yang berlari menuju mulut gua itu, Odo melihat beberapa luka
memar pada lengan dan air matanya berlinang keluar dari wajah penuh ketakutan.
Di belakang gadis itu terlihat
beberapa Orc, Monster berpostur tubuh seperti manusia setinggi lebih dari dua
meter, hanya mengenakan kain sebagai penutup bagian tubuh bawah, wajahnya
menyerupai babi, dan memiliki taring yang panjang yang mencuat keluar dari
mulut.
"Habis dig****ng!!?"
perkataan brengsek itu keluar dari mulut Odo dengan sendirinya. Mungkin karena
di kehidupannya dulu Ia sering membaca komik dengan genre semacam itu, hal
tersebut sudah melekat pada jiwanya walaupun telah bereinkarnasi.
[Catatan: itu walaupun terbaca, jangan
dibaca. Walaupun paham, jangan dipahami]
"Ah!" Odo sadar kalau
sekarang bukan saatnya memikirkan hal seperti itu.
Dengan segera dirinya meningkatkan
tekanan sihir, kemudian berlari ke arah gadis itu sambil mengulurkan tangan
kanan ke depan dan merapalkan sihir.
"Singa langit yang menggelegar,
meraungkah!"
Dari telapak tangannya yang terbuka ke
depan, petir biru menyambar keluar melewati gadis itu dan membakar satu ekor
yang mengejarnya. Dari serangan petir yang sekilas menerangi isi gua, Odo
mengonfirmasi lima Orc lainnya.
"Hya ...!" Gadis itu
menunduk takut.
"Bound ...."
Di saat penglihatan para Monster
dibutakan sementara karena serangan petir tadi, Odo membuat sihir pelontar pada
kedua kaki dan melesat lurus ke depan dengan cepat. Di depan kelima Orc, Odo
memperlambat laju dan kakinya menapak di tanah, kemudian bergerak melewati para
monster dan berdiri di belakang mereka.
Penglihatan para Orc kembali. Di saat
mereka sedang kebingungan, Odo yang sedang berdiri di belakang para Orc mulai
mengulurkan kedua tangannya dan menyatukan telapak tangan, kemudian mengarahkan
ujungnya ke arah para monster.
"Tombak cahaya ilahi, kesucian
pertiwi membumihanguskan daratan kegelapan menjadi cahaya kekal!"
Dari ujung kedua telapak tangan yang
disatukan melesat peluru cahaya bersuhu sangat tinggi yang melubangi kelima Orc
sekaligus, ada yang tepat pada perut, ada yang hanya di bagian samping, dan ada
yang terpotong menjadi dua bagian. Walaupun serangan itu sangat kuat, tetapi
bola cahaya berukuran bola sepak yang melesat dengan kecepatan cahaya tadi
langsung terurai saat terpapar cahaya matahari di luar gua.
Tubuh mereka ambruk, dari lubang pada
tubuh mereka keluar asap dari darah yang menguap. Tanpa membuang waktu, Odo
segera meningkatkan tekanan sihir karena merasakan hawa tidak enak di
belakangnya. Dirinya segera meloncat ke depan.
Bruak!!
Sebuah kampak besar menancap ke lantai
gua sesaat setelah dirinya meloncat. Saat masih berada di udara, Odo meletakkan
tangannya ke atas mayat salah satu Orc tadi, kemudian menjadikannya tumpuan dan
kembali meloncat ke arah gadis yang menunduk ketakutan.
"Sekarang apa lagi?"
Segera setelah kedua kakinya mendarat,
Ia melihat ke arah sosok yang mengayunkan kampak besar ke arahnya. Sosok itu adalah
Orc, tetapi aura dan bentuk tubuhnya sangat berbeda dengan kelima Orc yang tadi
dihabisi. Tingginya hampir mencapai langit-langit gua setinggi enam meter, dan
ia mengenakan jubah seakan menandakan dia spesial.
"Monster ini .... kuat!"
Odo segera memeluk gadis di dekatnya,
kemudian memanggulnya keluar dari gua. Setelah menurunkan gadis bergaun putih
kusam itu dan tidak memedulikan ekspresi bingungnya, Odo segera meningkatkan
tekanan sihirnya dan melesat masuk ke dalam gua.
"Singa langit yang menggelegar,
meraungkah!"
Odo melancarkan serangan pembuka
berupa sihir sambaran petir. Berbeda dengan monster lainnya yang memiliki
intelegensi rendah, Orc itu menggunakan bangkai kawannya sebagai perisai.
Tetapi, petir itu tidak terhenti sepenuhnya dan melukai Orc yang memegang
kampak tersebut.
"Orc ini ... apa dia pernah
melakukan kontrak dengan Iblis ....?" Sekilas hal itu terpikirkan Odo.
Iblis, dengan kata lain makhluk yang
dulunya adalah malaikat yang menjadi laknat karena membangkang pada penciptanya.
Sejak perang Kono Dewa dan Iblis berakhir dan dimenangkan oleh pihak Dewa-Dewi,
ras yang juga disebut Mantan Malaikat itu masih ada di dunia sampai sekarang.
Sejak masa itu, Iblis selalu menghasut
para makhluk dunia dan selalu mencari kesempatan menurunkan para Dewa dari
singgasananya. Perang Besar yang terjadi di keempat negeri yang baru berakhir
sekitar 20 tahun yang lalu sebelum Odo lahir juga dikatakan disebabkan oleh
Iblis Kuno.
"Kalau tidak salah, menurut
cerita di buku bukannya para Iblis telah disegel di Benua Iblis? Kalau begitu,
kenapa Orc ini ... hawanya sangat menjijikkan. Mirip dengan kutukan yang Ibu
derita ...."
Saat berpikir hal tersebut, Odo baru
tahu kalau Orc itu memiliki regenerasi yang sangat cepat. Luka dari serangan
pembuka tadi dalam hitungan detik tertutup kembali.
Tidak merisaukan hal yang terjadi, Ia
segera meningkatkan tekanan sihir sampai batas tertentu. Kilatan petir
menyelimuti tubuhnya dan kornea matanya berubah menjadi biru gelap.
"Halilintar adalah bagian dari
komponen dunia, cuaca yang diselimuti awan. Diriku dan tanganku adalah bagian
dari dunia, kedua tangan ini aku serahkan pada petir yang menyatu dengan
langit!"
Petir biru terang yang menyelimuti
tubuhnya mulai memusat pada kedua tangan. Tanpa menunggu lama, menggunakan
sihir pelontar Ia melesat ke arah Orc tersebut dan langsung menerbangkan tinju
ke arah wajahnya.
Orc tersebut bereaksi dengan cepat dan
melindungi wajahnya dengan kampak. Tetapi, Odo telah memperhitungkan hal
tersebut. Ia membuka kedua telapak tangannya ke depan, kemudian menggunakan
gaya elektromagnetik pada kedua tangannya untuk mendorong kampak besi itu
sampai memukul wajah Orc itu dengan sangat keras.
Bruak!!
Taringnya rontok, dan hidung babinya
bertambah pesek.
Saat masih berada di udara dan momentum
maju belum hilang sepenuhnya, Odo memegang kepala Orc tersebut dan melayangkan
tubuhnya di atas Orc, kemudian menghantarkan elektro dalam tekanan tinggi
langsung ke otaknya.
"Menyambar!"
Zreret!
Kepala Orc itu seketika gosong dan
isinya matang terbakar. Odo menapak di tanah, kemudian berguling ke belakang
melalui kaki Orc yang mulai ambruk ke belakang itu. Aura sihir dan petir pada
tubuh Odo menghilang.
"Huh, untung cepat selesai,"
ucap Odo sambil mengusap keringatnya.
Sekilas anak itu melihat ke dalam gua
dengan mata yang penglihatannya telah ditingkatkan. Dari dalam sana, terlihat
bayangan samar dan terasa hawa keberadaan yang tidak enak, terasa menjijikkan
dan mengerikan.
"Lebih baik ... aku tidak perlu
membuat penguasa gua ini marah. Hawanya berbeda, tidak seperti Orc tadi. Kurasa
kalau tidak diganggu tidak masalah ... Ya, semoga saja sih ...."
Odo mengambil kampak yang tadi
digunakan oleh Orc dan menyeretnya keluar dari gua. Di depan mulut gua, gadis
yang tadi kabur dari para Orc terlihat ketakutan melihat Odo menyeret kampak
Orc keluar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya
Odo sambil menjatuhkan kampak berat itu ke tanah.
"Uhm, saya baik-baik saja ....
Kalau kamu, apa kam⸻"
"Aku baik-baik saja," potong
Odo. Ia berjalan mendekati gadis yang masih berlinang air mata itu, kemudian
melihat luka pada kedua lengannya.
Tanpa meminta izin, Odo memegang kedua
tangan gadis itu terluka dan menggunakan sihir penyembuhan padanya.
"Embun penyejuk, membawa perasaan
tenang dan kesembuhan ...."
Perlahan luka lecet pada kedua tangannya
menghilang. Melihat hal itu, gadis itu terkejut seraya berkata, "Sihir
Penyembuh ....?"
"Apa Sihir seperti ini
asing?" tanya Odo.
Gadis itu menggelengkan kepala,
kemudian menjawab, "Biarawati di panti asuhan juga ada yang bisa
menggunakannya."
Jawaban itu membuat Odo sesaat
termenung. Kata panti asuhan memberitahukan bahwa gadis itu seorang yatim piatu
atau anak yang dibuang. Melihat nasib anak seumurannya, Odo sedikit merasa hina
karena berpikir tentang ego terus menerus dan mengeluh.
"Hem, apa ada luka lainnya?"
tanya Odo.
Gadis itu terlihat bingung sesaat
sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Saat Ia menyentuh lutut, Odo tahu kalau
luka yang harus disembuhkan ada pada bagian tersebut.
"Kalau begitu, duduk dulu di atas
sana ...."
Odo menunjuk batu di dekat tempat
mereka. Dengan wajah yang terlihat bingung, gadis itu mengikuti perkataan Odo.
Gadis itu duduk di atas batu, kemudian melepaskan kalung yang dikenakan. Odo
berlutut di depannya dan memandang wajahnya, dengan kebingungan gadis itu
menjatuhkan kalungnya ke asas pangkuan.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu
bisa ada di gua itu?" tanya Odo.
Gadis itu terlihat kebingungan untuk
menjawab. Ia menggerakkan kedua tangannya seakan ingin menjelaskan sesuatu,
tetapi mulutnya tidak mengucapkan satu kata pun.
"Huh, kalau begitu ... nama kamu
siapa? Dari mana asalmu?" tanya Odo.
"Nanra ... Tara .... Asalku, dari
... kota pesisir Wilayah Kekuasaan Marquess Luke ...."
[Catatan: Marquess, salah
satu tingkat bangsawan, berada di bawa Duke dan di atas Count atau Earl]
Jawaban itu membuat Odo sedikit
terkejut. Sekilas Ia memalingkan pandangan, kemudian berpikir berbagai hal.
"Ka-Kalau kamu ...?" tanya
Nanra.
Odo menoleh, kemudian menatap dengan
ekspresi datar. Ia berpikir berbagai macam hal sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Ehm, Aku? Namaku Odo, aku dari
desa kecil di atas perbukitan," jawab Odo. Tentu saja sebagian dari
perkataannya adalah kebohongan untuk menyembunyikan identitasnya
Odo menyentuh kedua lutut Nanra,
kemudian tanpa membuka gaunnya Ia menggunakan Sihir Penyembuh untuk
menyembuhkan luka gadis itu. Sesaat Odo menunduk, kemudian merenungkan akan
sesuatu.
Melihat itu, Nanra sedikit bingung dan
mulai panik kalau terjadi sesuatu pada anak laki-laki di depannya itu.
Odo berdiri, kemudian memegang kedua
pundak Nanra seraya menatap tajam gadis itu. Dengan nada semangat, Odo bertanya
hal kurang ajar kepada gadis belia itu.
"Apa kamu tadi dig****ng sama Orc
tadi!!?"
"Eh ...?" wajah Nanra
terlihat bingung karena tidak mengerti maksud perkataan Odo.
[Catatan: itu walaupun terbaca, jangan
dibaca. Walaupun paham, jangan dipahami]
Beberapa detik kemudian, Odo tersadar
dan menyesali pertanyaan hina yang ia tanyakan pada gadis kecil itu. Walaupun
dirinya sendiri masih belum genap sembilan tahun, tetapi pada dasarnya Odo secara
mental sudah berumur hampir tiga puluh tahunan.
Sambil berjongkok dan berbalik dari
Nanra, Odo memegang kepala dengan kedua tangan dan tenggelam dalam penyesalan
atas kehinaannya.
"O-Odo ...?" panggil Nenra.
Odo bangun, kemudian berbalik melihat
Nenra. "Ngomong-omong, kenapa kamu tadi ada di gua? Kamu sudah tahu kalau
di dalam sana ada Monster, 'kan?" tanya Odo yang berniat mengganti suasana
hati.
"A ... itu ...."
"Jangan-jangan, apa di dalam
masih ada temanmu ya⸻"
"Bukan," potong Nenra.
"Hanya saya yang dibawa mereka," lanjutnya dengan lirih.
"Terus kenapa kamu bisa dibawa
para Monster itu?"
"I-Itu .... Saat saya mencari
jamur di hutan, me-mereka tiba-tiba datang dan menyekapku. Saat sadar, saya ...
sudah a-ada di dalam gua ...."
Penjelasan itu terdengar tidak
meyakinkan. Tetapi saat melihat wajah gadis itu yang benar-benar ketakutan, Odo
memilih untuk tidak mempertanyakan penjelasannya.
Anak laki-laki itu meregangkan tubuh,
kemudian melihat ke arah langit dan mengamati pergerakan awan. Setelah
mengetahui beberapa hal dari itu, Odo mengulurkan tangan kepada gadis itu.
"Nanra ..., aku antar pulang ya.
Rasanya tidak enak membiarkanmu pulang sendiri, ya sekalian aku mau mampir ke
kota."
Nenra sedikit terlihat bingung. Saat
hendak meraih uluran tangan Odo, tiba-tiba anak laki-laki itu memasang ekspresi
takut yang ditujukan kepadanya.
"Ke-Kenapa kamu gemetaran?"
tanya Nenra.
"Eh, gemetar? Siapa ?"
"Odo ...."
Sesaat anak laki-laki itu melihat
tangannya sendiri, dan memang tangannya itu gemetar penuh keringat dingin.
Samar-samar Odo tahu penyebabnya itu adalah rasa trauma di kehidupan
sebelumnya, rasa takut dengan seorang gadis berambut putih yang kebetulan
ditemui.
"Ah, kejadiannya hampir mirip
dengan situasi ini ya .... Rasa takut ini ... semoga gak ada kendaraan yang
mengantarku ke peristirahatan terakhir seperti saat itu atau sebuah kam ... pak
...."
Odo tersadar, kalau di tempat itu ada
sebuah kampak dan situasi saat ini memang benar-benar mirip dengan saat
terakhir di kehidupan sebelumnya. Seorang gadis berambut putih yang kebetulan
ditemui dan sebuah kampak, kedua hal itu benar-benar mengingatkannya akan
trauma itu.
"Ka-Kalau dipikir-pikir lagi,
sepertinya kamu memang jangan dekat-dekat denganku."
Odo mengambil beberapa langkah mundur,
dan Nenra terlihat bingung dengan tingkah anak laki-laki tersebut.
"Aneh ...."
"Be-Berisik ...."
Pada akhirnya Odo tidak tega
membiarkan gadis yang baru ditemuinya itu pulang sendiri, dan mengantarnya
pulang ke kota pesisir. Saat di perjalanan, Odo mengajukan beberapa pertanyaan kepada
gadis itu.
Dari penjelasan Nenra, alasan Ia pergi
sendirian mencari jamur di hutan adalah karena panti asuhan tempatnya tinggal
kekurangan makanan sebab sebagian besar hasil laut dan panen ladang diambil
untuk ekspedisi yang dilakukan Tuan Tanah, dengan kata lain ayah Odo sendiri.
Karena harga bahan makanan naik, para anak di panti asuhan terpaksa harus
berpuasa.
Nenra yang sudah tidak tahan terus
berpuasa mengambil ini inisiatif untuk mencari jamur atau buah di hutan, tetapi
nasibnya kurang baik dan disekap oleh para Orc. Kalau tidak ada Odo, mungkin
nasib gadis itu akan berbeda.
===================================================
Catatan Tambahan [Finansial atau
Keuangan]
Mata Uang [Rupl] Atas perjanjian
keempat negeri, mata uang di daratan Michigan adalah satu jenis, berupa uang
koin logam yang antara lain bernilai:
-Satu koin perunggu kecil= 5 Rupl
-Satu koin perunggu besar= 10 Rupl
-Satu koin perak kecil= 50 Rupl
-Satu koin perak besar = 100 Rupl
-Satu koin emas kecil= 500 Rupl
Satu koin emas besar= 1.000 Rupl
Selain koin emas, sistem barter juga
masih berlaku. Bukan hanya itu saja, Kristal Sihir juga bisa digunakan sebagai
alat tukar di beberapa tempat tertentu.
Catatan Tambahan [Tingkatan Bangsawan
(Secara garis besar)]
-Duke= Gelar bangsawa tertinggi
setelah Raja, memiliki kekusaan tertinggi dalam militer kerajaan setelah raja
dan biasanya dimiliki oleh para anggota keluarga kerajaan. Ada juga
tingkatan-tingkatan Duke seperti Arch Duke dan Grand
Duke.
-Marquess= Gelar bangsawan di
atas Earl atau Count, tetapi masih
dibawah Duke. Dipercaya oleh raja untuk menjaga wilayah
perbatasan, oleh karena itu tingkat kebangsawanannya lebih tinggi dari tingkat
bangsawan lain yang bukan keluarga kerajaan.
-Count (pria)/ Countess (wanita)=
Gelar bangsawan yang memiliki berbagai macam status. Bisa juga diartikan
sebagai sekutu Raja atau keluarga kerajaan. Tingkatnya berada di bawah Raja,
Duke, dan Marquess. Ada juga tingkatan lain seperti Viscount.
-Earl= hampir sama dengan Count,
tetapi lebih mengarah kepada kepala suku/pemimpin kota.
No comments:
Post a Comment